Malam 17 Ramadhan adalah malam turunnya Al-Qur’an yang biasa disebut Nuzulul Qur’an. Tapi taukah kamu kalau pada hari itu terjadi berbagai macam peristiwa yang menyangkut harkat dan martabatku? Mari kita simak baik-baik cerita yang aneh tapi nyata ini (serius coy).
Hari Selasa, 16 Agustus 2011 adalah hari dimana kelasku ada ulangan sejarah yang menurutku adalah pelajaran yang lumayan sulit. Tahu itu pelajaran sulit, aku malah gak belajar (Sok pinter coy,). Waktu ulangan pun tiba. Aku hanya mengandalkan pengetahuanku saja. Tapi soal-soalnya gak ada yang nyambung sama pengetahuanku. Sial-sial.
Satu-satunya cara adalah meminta bantuan kepada teman sebangkuku “Kartika Widyakusuma Agung Putri” (Panggil Kartika). Ahli dalam berbahasa Inggris sekaligus wakil ketua OSIS di SMA. Otaknya juga top-cer. Buktinya setiap aku tanya jawaban dia bisa jawabnya. Saking seringnya aku tanya sama dia, sampai-sampai dia kemropok sama aku. Tapi kita aku gak nyadar kalau diperhatikan bu “Dwi Hastuti” (Panggil Bu Has).
Bu Has adalah guru sejarah yang otaknya Really Great (Baca: Rili grit). Kayak-kayak semua peristiwa sejarah tuh dimakan semua soalnya kalau menerangkan tuh lancar banget. Selain itu beliau juga ramah, baik hati dan tidak sombong. Ddduh, aku jadi pengen kayak gitu. Cukup segini ja kenalan sama bu Has, karena mungkin aku akan punya masalah dengan beliau.
Beliau tau kalau aku tuh kerja sama dengan Kartika. Tapi waktu itu kami belum tau. Tau tau waktu udah selesai ulangan, dikasih tau sama Retno, cewek yang duduk dibelakangku. Sial-sial, ketahuan deeh. Mungkin ja nilai kami berdua akan dikurangi karena terjadinya kerja sama antar pelajar yang tidak tepat pada tempatnya. Sorry ea tik.
Malamnya, waktu isya’ adalah waktunya untuk shalat tarawih. Aku mendapat musibah yang amat sangaaaaaaaaaattt memalukan. Dan aku berkata dalam hati untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi.
Seperti malam-malam Ramadhan biasanya kami se-kosan shalat tarawih di tempat favorit kami. Dan untuk yang pertama kalinya aku datang lebih awal bersama dengan Dito, mas Margo, dan juga mas Irfan (temen kosan juga). “We are starring at the star” (kayak lagu tuh) sambil nunggu Iqomah berkumandang. Eh tiba-tiba Dito punya ide untuk ngagetin Candra (Panggil Ucil) yaitu anak paling kecil di kosanku soalnya masih SMP kelas 1.
Rencana pun dimulai, dan akulah yang menjadi pelaku utama. Tanpa aba-aba, aku hanya mengandalkan bayangan yang terpantul, “wah Ucil sudah mau masuk jebakan tuh” pikirku dalam hati. Dan “baaaa!!!”. Apa yang terjadi?
1. Apakah Ucil pingsan karena kaget? (gak mungkin kale’)
2. Atau mungkin saking kagetnya Ucil terbang sampai-sampai kebentur genteng?? (Khayal banget sih)
3. Atau Ucil kaget kemudian aku ditonjok? (mana berani Ucil sama aku. J)
4. Atau mungkin Ucil cuma kaget sebentar ja kemudian santai lagi??? (kalo ini mungkin aja)
Ternyata eh ternyata, salah menduga salah mengira yang aku kagetin adalah seorang ibu-ibu yang tidak bersalah atas penyeranganku kali ini,.. dan dooorrr, tentu saja ibu-ibu itu kaget setengah mati.. dduuhh, begonya aku, temen-temen pada ngetawain aku, maluuuuuuuuu bangGETZ. Awas loe Dito, tunggu pembalasanku. Hahahahahahaha (tirukan gaya Pahlawan Bertopeng versi Shincan)
Dan akhirnya aku mengambil air wudhu untuk merileksasikan pikiranku, tanpa disangka tanpa diduga, air itu bau bangkai tikus cuy. Dan aku udah terlanjur wudhu!! (waduh-waduh, sial bener ini hari). Ea mau gimana lagi, terpaksa aku ikut shalat tarawih dengan tidak mendapatkan pahala apa-apa.
Habis shalat tarawih aku langsung kabur dari Musholla, takut ibu-ibu tadi marahin aku dan aku dipermalukan didepan umum. Hiks hiks... Dan Alhamdulillah sampai kos’an sehat wal’afiat. Itulah kejadian sial yang aku alami pada malam 17 Ramadhan.
Pesan moral :
1. Buat Kartika, terima kasih atas bantuannya zaw,. Walaupun harus berkorban dikurangi nilaimu. Hehehehe
2. Kalo punya temen kayak Dito tabokin aja sampai puas.

huuuaaahhaaaa
BalasHapusngekek rei wkwkwkw
BalasHapus