Setelah sekian lama vakum blogging, sekarang dimulai lagi perjalanan penulis pemula bernama Reinal Ariyuda. Ya, mungkin rada garing dan membosankan, namanya aja pemula. Hehe.
Langsung aja masuk kedalam cerita.
Waktu itu aku sudah kelas XII di SMA N 1 Rembang, sekitar pertengahan bulan November disaat pulang sekolah pengumuman ini bergema. "Diharap untuk siswa yang saya sebut, setelah pulang sekolah untuk berkumpul di Lab Komputer. Dono XII IPA 7, Joko XII IPA 6, Maho XII IPA 5, Zurich XII IPA 5. Terima kasih"
"Namaku nggak disebut" gumamku dalam hati. Sebenarnya sih nggak masalah, cuman, nama-nama yang disebut itu semua adalah orang yang ikut ekstra olimpiade komputer, dan aku ikut! Gimana nggak dongkol coba. Ya udah aku pulang dengan lapang dada (buset dah). Sampe kos-kosan aku langsung ambil air wudlu, trus sholat, tidak lupa berdoa pada Allah SWT untuk diberikan yang terbaik. (Kakakaka)
Beberapa saat kemudian setelah sholat, suara yang tak asing bagiku memanggil namaku.
"Nal, ayo ikut kumpul di Lab Komputer" Yah, Dono, dia satu kos denganku.
"Lah, kan namaku gak dipanggil peak. -_-" Jawabku sekenanya.
"Udah, namamu aku rekomendasiin ke pak Do."
"Ngapain coba. Males ah, mau tidur aja aku"
"Ya udah deh kalo nggak mau ngikut lomba"
"Iya ya ikut-ikut. Hehe." dalam hati aku berkata 'Terimakasih ya Allah. T.T '
"Cepetan, ganti baju"
"Iya sabar napa."
Ternyata para siswa yang dipanggil tadi akan mengikuti lomba SNITCO (Senior highschool IT Competition) yang diadakan oleh SMAku sendiri yang bekerja sama dengan UDINUS Semarang dan SCUT Guangzhou dan itu adalah tingkat Nasional. Hebat kan? SMA 1 gitu loh. :D
Singkat cerita, hari itu pun datang. Seleksi tahap pertama pun dimulai, seleksi ini adalah seleksi online, so kita bisa browsing kalo kesulitan. Hehehe. 30 orang pun lolos seleksi online.
30 orang yang lolos seleksi diundang ke Rembang untuk mengikuti pembukaan diadaakan di Aula SMA 1 Rembang dengan desain yang indah menawan hati. Setelah upacara pembukaan, wali kelasku, bu Ningsih berkata padaku sambil mengepalkan tangan keatas. "Optimis Rei, menang." Aku cuma bisa mengangguk. Secara, ini lomba tingkat nasional cuy, nggak main-main. Mana bisa optimis aku.
Seleksi berikutnya adalah tes tertulis 1. Dari tes ini tersisa 15 orang. Dan alhamdulillah aku dan Dono salah satunya.
Selanjutnya tes tertulis 2. Tentu saja soalnya lebih sulit dari yang pertama. Di sini cuma 5 orang yang diambil. Dan sekali lagi, aku dan Dono adalah orang yang terpilih.
Persaingan kita akan berakhir disini, karena ini adalah tes terakhir. Tes kreatifitas. Tugas kita sebenarnya cukup mudah, kita disuruh untuk membuat poster tentang pendidikan. Dan aaaaaah, jujur aku bukan orang yang kreatif. Sesaat sebelum final test dimulai, aku menghampiri Zurich, teman sekelasku yang aku akui kejeniusannya akan kreatifitas tapi sayang, dia nggak lolos Tes Tertulis 2. Dia menyarankanku untuk membuat poster yang suram tentang pendidikan. Dia menjelaskan secara detail konsepnya. Oke Fix. I will use that idea.
Aku mengerahkan seluruh kekuatanku bahkan tenaga dalamku untuknahan boker membuat poster tersebut dengan ide yang diberikan oleh Zurich. (Kalo aja PC didepanku ini KW, udah nggak berwujud kali. :v) Beberapa jam kemudian, jadilah hasil karyaku yang berjudul "The Dark Era of Education"
Jam 16.00 WIB, saatnya pengumuman. Saat paling mendebarkan hati para finalis. Aku perkiraan namaku berada diurutan 3 atau 4. Dan ternyata meleset! Aku yang sudah berusaha sekuat tenaga sampe nahan boker segala itu tak bisa meraih juara 3 melainkan Juara 1! Iya cuy 1! Es a te u. Nggak nyangka banget aku. Sujud sukur pun tak terelekkan. Sedangkan si Dono, dia berhasil menyandang gelar Juara 4.
19 Desember 2013, Aku mengukirkan namaku di ranah Nasional. Aku membawa piala dan piagam dengan penuh rasa bangga. Seorang Reinal, yang namanya bahkan tidak disebut saat ada panggilan untuk kumpul di Lab Komputer, dapat menunjukkan bahwa dia bisa. Dia mampu menunjukkan bahwa dia bukan nol! Setelah kompetisi ini usai, aku langsung mengabari kedua orangtuaku, berharap mereka bangga atas apa yang aku raih ini.
Tapi ini bukan akhir dari perjuanganku untuk membanggakanmu Ayah ibuku, aku masih harus berjuang untuk membuat kalian bangga telah memiliki anak sepertiku. Aku percaya nama anak-anakmu selalu engkau sebut dalam setiap doamu, aku hanya bisa mendoakan kebaikan atas kalian. Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani saghira. Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil. Amiin.
"Namaku nggak disebut" gumamku dalam hati. Sebenarnya sih nggak masalah, cuman, nama-nama yang disebut itu semua adalah orang yang ikut ekstra olimpiade komputer, dan aku ikut! Gimana nggak dongkol coba. Ya udah aku pulang dengan lapang dada (buset dah). Sampe kos-kosan aku langsung ambil air wudlu, trus sholat, tidak lupa berdoa pada Allah SWT untuk diberikan yang terbaik. (Kakakaka)
Beberapa saat kemudian setelah sholat, suara yang tak asing bagiku memanggil namaku.
"Nal, ayo ikut kumpul di Lab Komputer" Yah, Dono, dia satu kos denganku.
"Lah, kan namaku gak dipanggil peak. -_-" Jawabku sekenanya.
"Udah, namamu aku rekomendasiin ke pak Do."
"Ngapain coba. Males ah, mau tidur aja aku"
"Ya udah deh kalo nggak mau ngikut lomba"
"Iya ya ikut-ikut. Hehe." dalam hati aku berkata 'Terimakasih ya Allah. T.T '
"Cepetan, ganti baju"
"Iya sabar napa."
Ternyata para siswa yang dipanggil tadi akan mengikuti lomba SNITCO (Senior highschool IT Competition) yang diadakan oleh SMAku sendiri yang bekerja sama dengan UDINUS Semarang dan SCUT Guangzhou dan itu adalah tingkat Nasional. Hebat kan? SMA 1 gitu loh. :D
Singkat cerita, hari itu pun datang. Seleksi tahap pertama pun dimulai, seleksi ini adalah seleksi online, so kita bisa browsing kalo kesulitan. Hehehe. 30 orang pun lolos seleksi online.
30 orang yang lolos seleksi diundang ke Rembang untuk mengikuti pembukaan diadaakan di Aula SMA 1 Rembang dengan desain yang indah menawan hati. Setelah upacara pembukaan, wali kelasku, bu Ningsih berkata padaku sambil mengepalkan tangan keatas. "Optimis Rei, menang." Aku cuma bisa mengangguk. Secara, ini lomba tingkat nasional cuy, nggak main-main. Mana bisa optimis aku.
Seleksi berikutnya adalah tes tertulis 1. Dari tes ini tersisa 15 orang. Dan alhamdulillah aku dan Dono salah satunya.
Selanjutnya tes tertulis 2. Tentu saja soalnya lebih sulit dari yang pertama. Di sini cuma 5 orang yang diambil. Dan sekali lagi, aku dan Dono adalah orang yang terpilih.
Persaingan kita akan berakhir disini, karena ini adalah tes terakhir. Tes kreatifitas. Tugas kita sebenarnya cukup mudah, kita disuruh untuk membuat poster tentang pendidikan. Dan aaaaaah, jujur aku bukan orang yang kreatif. Sesaat sebelum final test dimulai, aku menghampiri Zurich, teman sekelasku yang aku akui kejeniusannya akan kreatifitas tapi sayang, dia nggak lolos Tes Tertulis 2. Dia menyarankanku untuk membuat poster yang suram tentang pendidikan. Dia menjelaskan secara detail konsepnya. Oke Fix. I will use that idea.
Aku mengerahkan seluruh kekuatanku bahkan tenaga dalamku untuk
Jam 16.00 WIB, saatnya pengumuman. Saat paling mendebarkan hati para finalis. Aku perkiraan namaku berada diurutan 3 atau 4. Dan ternyata meleset! Aku yang sudah berusaha sekuat tenaga sampe nahan boker segala itu tak bisa meraih juara 3 melainkan Juara 1! Iya cuy 1! Es a te u. Nggak nyangka banget aku. Sujud sukur pun tak terelekkan. Sedangkan si Dono, dia berhasil menyandang gelar Juara 4.
![]() |
| Atas : Sari, Riski, Reinal, Dono, Kultum, Wati Bawah : Fauzi, Zurich |
Tapi ini bukan akhir dari perjuanganku untuk membanggakanmu Ayah ibuku, aku masih harus berjuang untuk membuat kalian bangga telah memiliki anak sepertiku. Aku percaya nama anak-anakmu selalu engkau sebut dalam setiap doamu, aku hanya bisa mendoakan kebaikan atas kalian. Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani saghira. Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil. Amiin.

Super....!!!!!
BalasHapusWhat the f :D
BalasHapusFantastic, huh?
Hapusbut i'am still black :(
HapusJust wait for your turn. ;)
Hapusi might just glow, will never white.
Hapus