Langsung ke konten utama

Perjuangan di Gunung Pancur

Kembali ke masa-masa SMA, masa dimana jati diri seorang remaja ditemukan. Masa paling indah diantara masa-masa yang lain. Dan masa ini adalah pertama kali aku menjelajah hutan. Cerita ini dimulai ketika aku kelas XI. Sekolahku mengadakan Festival Film Smansa. Setelah perundingan yang sengit, akhirnya kelas kami memutuskan untuk mengambil tema horor di hutan. Tepatnya di sebuah gunung di kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang.

Cover Film "24 JAM"
Aku sebagai salah satu cowok ter-ngeh di kelas (hehe) terpilih sebagai salah satu pemeran utama di film tersebut. Judul filmnya adalah "24 Jam". Entah dapat darimana judul itu aku lupa. Segalanya telah dipersiapkan. Kamera, script, penata rias artis, makanan dan kebutuhan lain. Tinggal berangkat menuju lokasi syuting.

Minggu, 14 April 2013, kami berangkat menuju ke lokasi. Dari Rembang ke Pancur dibutuhkan waktu sekitar 45 Menit. Juru Kamera mulai mengambil scene yang sekiranya dibutuhkan dalam pembuatan film. Sementara sutradara mencari-cari lokasi yang cocok untuk dijadikan sebagai latar. Namun cuaca tidak begitu mendukung. Hujan mulai menghampiri kami. Dengan peralatan seadanya kami berteduh dekat pohon yang cukup besar.

Setelah sekiranya cuaca agak reda, kami melanjutkan perjalanan kami. Beberapa scene pun diambil, dan karena beberapa harus dilakukan dilokasi yang menunjukkan bahwa kita berada dipuncak gunung, mau tidak mau kita harus mendaki sampai ke puncak deh. Sambil berjalan mencari-cari lokasi, kami menikmati pemandangan sekitar. Ya, itung-itung ngisi liburan.

Dengan sisa tenaga yang tak seberapa, scene di puncak gunung itu akhirnya didapat meski harus mengulang berkali-kali. Mungkin karena si artisnya belum kebiasa kali ya. Hahaha. Karena hari sudah sore, kami pun turun dari gunung itu dan mengakhiri syuting hari itu. Hari yang cukup melelahkan bagi seorang artis. xD

"Akhirnya selesai juga syutingnya" kataku.
"Ho'oh, tinggal diedit aja deh." kata salah seorang dari kami yang bernama Ardhi.
"Kamu aja ya dhi yang ngedit."
"Tapi ya dibantu dong."
"Tenang aja, aku bantu do'a kok. Hehe"
"-___-"
"Nggak, serius aku bantu deh. Tenang aja."
"Oke sip."

Setelah diperiksa oleh tim editor (termasuk aku neh) ternyata masih harus ada scene tambahan karena kalo nggak, nih cerita nggak bakal nyambung.

Selasa, 16 April 2013, Dengan amat sangat terpaksa, kami pun kembali ke gunung itu lagi, dan mengambil scene yang sisa-sisa gitu. Ya meskipun rada terpaksa, aku masih tetap menikmati trip ini. Karena momen seperti ini, hang out bersama teman-teman adalah momen yang sangat langka. Pendakian Gunung di Pancur itu adalah pendakian gunung pertama sekaligus terakhir dimasa SMAku yang begitu mengesankan.

Para kru dan artis film "24 JAM"
Entah kapan lagi kita bisa hangout lagi bersama. Aku masih menantikan masa-masa itu untuk segera terwujud. Aku kangen kalian, teman-teman T.T (sambil dengerin lagunya Sheila On 7 - Kisah Klasik)

Setelah akhirnya lengkap tuh video-videonya, tim editor dan tim kreatif mulai menambahi bumbu-bumbu sedap sebagai penambah kesan horor. Film ini berdurasi sekitar 20 menit, pas dengan waktu maksimal yang sudah ditentukan oleh panitia. 

Saat pengumuman juara pun tiba, semua orang berkumpul di Aula SMA 1 untuk menyaksikan karya mana yang terbaik yang pantas untuk menyandang gelar juara dan The best movie of the year. Meskipun film kami masuk banyak nominasi seperti editor terbaik, kameraman terbaik, pemeran utama terbaik, dll. Tapi tidak satupun dari nominasi itu yang masuk. Setelah pengumuman nominasi selesai, tibalah saatnya pengumuman film mana yang terbaik. Hasilnya pun cukup memuaskan. Film horor kami mendapatkan posisi kedua setelah "Oh!" dari Kelas XI IPA 1. Prestasi yang cukup membanggakan mengingat tak ada yang ahli dalam perfilman di kelas kami. Hahaha.

Dengan berakhirnya FFS, berakhir pula masa aktif film-film ini. Kami berharap film ini masih ada di arsip SMA N 1 Rembang, kalau-kalau suatu saat kami ingin melihat film itu lagi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pijakan Pertamaku di Tirai Bambu

Sabtu, 13 September 2014 16:30 waktu setempat. Pesawat Garuda Airlines dengan nomor penerbangan GA898 mendarat dengan selamat di Baiyun International Airport, Guangzhou. Ingin hati ini segera memberi kabar kepada keluarga bahwa aku sudah tiba disini. Di negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi terbesar di Dunia, di negara dengan jumlah penduduk terbesar di Dunia, negara dengan jumlah barang KW terbesar di Dunia. XD Kiri : Keadaan di dalam pesawat Kanan : Keadaan di luar pesawat Cukup dengan opening yang sok puitis ini ye. Otakku nih nggak kompatibel karo harus mikir yang puitis mulu :D. Oke lanjut. Waktu pertama aku turun dari pesawat, sumpah demi Allah aku nggak tau apa yang harus aku lakukan. Prosedur-prosedurnya kaya gimana aku nggak tau. Aku bilang sama orang yang tadinya duduk disebelahku. "Mas, help me ya. Aku nggak tau urut-urutane harus gimana" "Iya, tenang ae. Udah ngikut aku aja" "Oke sip, makasih mas."

Kuda Hitam yang Tak Lagi Hitam

Setelah sekian lama vakum blogging, sekarang dimulai lagi perjalanan penulis pemula bernama Reinal Ariyuda. Ya, mungkin rada garing dan membosankan, namanya aja pemula. Hehe.  Langsung aja masuk kedalam cerita.  Waktu itu aku sudah kelas XII di SMA N 1 Rembang, sekitar pertengahan bulan November disaat pulang sekolah pengumuman ini bergema. "Diharap untuk siswa yang saya sebut, setelah pulang sekolah untuk berkumpul di Lab Komputer. Dono XII IPA 7, Joko XII IPA 6, Maho XII IPA 5, Zurich XII IPA 5. Terima kasih" "Namaku nggak disebut" gumamku dalam hati. Sebenarnya sih nggak masalah, cuman, nama-nama yang disebut itu semua adalah orang yang ikut ekstra olimpiade komputer, dan aku ikut! Gimana nggak dongkol coba. Ya udah aku pulang dengan lapang dada (buset dah). Sampe kos-kosan aku langsung ambil air wudlu, trus sholat, tidak lupa berdoa pada Allah SWT untuk diberikan yang terbaik. (Kakakaka) Beberapa saat kemudian setelah sholat, suara yang tak asing b...

Usaha Keras tak Akan Mengkhianati - Jilid 1

Karena kemenanganku di lomba SNITCO yang lalu, aku mendapatkan beasiswa ke SCUT Guangzhou, Tiongkok. Untuk menindaklanjutinya, maka aku harus segera mengurus persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan mulai dari paspor, visa, foto, medical check up, dll. Yang dll itu aku masih nggak tau, nunggu kabar dari Tiongkok dulu. Jujur aku nggak begitu peduli dengan itu semua, toh kalo udah waktunya bakal jadi tuh syarat-syarat. Pikirku dalam hati. Sampai UN selesai akupun belum mengurus apa-apa kecuali paspor. Rabu, 2 Juli 2014 Aku mencoba membuka e-mailku kali aja ada kabar, dan ternyata iya. Di situ tertulis bahwa karena aku dibawah 18 tahun, ada persyaratan tambahan yakni " Authorization to the Guardian Letter "(Namanya kek lontong, panjang amat). Aku nggak tau suratnya kayak gimana, buatnya dimana, pake bahasa apa. Aku tanya ke pihak SCUT bagaimana wujud surat itu, selang beberapa hari aku mendapat balasan beserta attachment contoh suratnya. Aku buka, "Aah simpel tern...