Langsung ke konten utama

Pijakan Pertamaku di Tirai Bambu

Sabtu, 13 September 2014 16:30 waktu setempat. Pesawat Garuda Airlines dengan nomor penerbangan GA898 mendarat dengan selamat di Baiyun International Airport, Guangzhou. Ingin hati ini segera memberi kabar kepada keluarga bahwa aku sudah tiba disini. Di negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi terbesar di Dunia, di negara dengan jumlah penduduk terbesar di Dunia, negara dengan jumlah barang KW terbesar di Dunia. XD


Kiri : Keadaan di dalam pesawat
Kanan : Keadaan di luar pesawat

Cukup dengan opening yang sok puitis ini ye. Otakku nih nggak kompatibel karo harus mikir yang puitis mulu :D.
Oke lanjut. Waktu pertama aku turun dari pesawat, sumpah demi Allah aku nggak tau apa yang harus aku lakukan. Prosedur-prosedurnya kaya gimana aku nggak tau. Aku bilang sama orang yang tadinya duduk disebelahku. "Mas, help me ya. Aku nggak tau urut-urutane harus gimana"
"Iya, tenang ae. Udah ngikut aku aja"
"Oke sip, makasih mas."
Orang ini adalah mas Andre. Dia seorang pengusaha sepatu di Guangzhou. Dia yang memberikan wejangan-wejangan tentang Tiongkok disepanjang perjalanan. Orangnya ramah, baik hati dan yang jelas tidak sombong.

Setelah semua prosedurnya berjalan dengan lancar, aku berpamitan dengan mas Andre dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Aku mulai menuruni eskalator. Di bawah sudah banyak orang-orang yang menanti orang-orang yang ditunggunya. Ada yang bawa papan, ada yang bawa spanduk besar, ada juga yang nggak bawa apa-apa.

Aku coba mencari namaku dari sekian banyak papan. Disaat itulah aku menemukan orang itu. Dia menatapku, aku menatapnya. Kita bertatap-tatapan.
"Reinal ya?" Celetuk seorang pria dengan gaya rambut ala Bruce Lee, dan dari wajahnya dapat dibaca bahwa dia orang Jawa.
"Iya mas, mas Fauzinya dimana?" Jawabku.
"Mas Fauzinya lagi dibawah. Ayo" Jawabnya dengan nada medhok. Dapat dipastikan 1000% dia orang Jawa.

Namanya Zaenal Arifin (selanjutnya disebut sebagai 'mas Zaenal'). Mahasiswa S2 di SCUT. Dan Fauzi Adi Rafrastara (selanjutnya disebut sebagai 'mas Fauzi'), mahasiswa S3 di SCUT. Mereka berdua adalah orang yang menjemputku di bandara. Maklum lah, pertama kali di negeri orang, kalau nggak dijemput takutnya nyasar. Hehe.

1 Jam kemudian tibalah aku di Asrama untuk Mahasiswa Internasional kampus Selatan. Dengan bantuan mas Fauzi, aku bisa mendapatkan kamar di asrama tersebut. Nggak tau deh apa jadinya kalau nggak ada beliau. Bisa jadi tidur di teras tokonya Cina nih XD.

Senin, 15 September 2014. Hari terakhir untuk registrasi. Lokasinya di B1. Karena aku belum tau tempatnya dimana, mas Fauzi bersedia menemaniku menuju B1. Kami janjian untuk bertemu ditengah jembatan jam 09:00. Aku mengiyakannya. Jam 08:40 aku berangkat dari asrama menuju ketempat yang telah dijanjikan.  Dalam perjalanan aku bertemu dengan orang berbadan tegap bak Body Guard. Sandhi Ahsani Taqwim namanya. Dia berjalan dengan seorang anak konglomerat, namanya Sciroco Hawari. Namanya keren, tapi orangnya. . . Beeuuh, keren juga. Hahaha.
"Mas, tau jembatan kan?" Tanyaku coba memulai pembicaraan.
"Iya, ntar kita nglewatin jembatan kok. Bareng kita aja." Jawab mas Sandhi dengan lugas.
15 menit kemudian.
"Nah, ini tempatnya. Emang nggak kayak jembatan, tapi ya ini jembatannya."
"Makasih ya mas."
"Oke, sama-sama. Aku kekelas dulu ya."

Pukul 10:15 Ditengah-tengah "jembatan" lagi boring,
akhirnya motoin orang lewat deh.
Jam 09:00 masih belum ada tanda-tanda dari mas Fauzi. Aku mondar-mandir kesana kemari. Nggak jelas ngapain.
Jam 09:30 belum juga datang. "Ah mungkin terlambat." gumamku dalam hati.
Jam 10:00 "Kok belum datang juga ya? Apa mas Fauzi nyasar? Tapi masak iya sih? Apa bisnya mogok?" Aku coba memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi.
Jam 10:30 Aku mulai menemukan kemungkinan terbesar yang mungkin terjadi. Apa aku salah lokasi ya?
Jam 11:00 Sudah 2 jam aku menunggu kedatangan beliau tapi tak muncul jua. "Aku harus melakukan sesuatu" pikirku.

Aku mulai mengambil inisiatif untuk menelpon mas Fauzi. Karena aku belum punya nomor Cina, jadi. . .
"Can I borrow your cellphone?" Kukatakan itu ke setiap orang yang lewat. Ku buang malu jauh-jauh kala itu.
Setelah banyak yang menolak, akhirnya kutemukan penyelamatku. Alhamdulillah ya Allah. Tanpa membuang banyak waktu aku langsung menelepon mas Fauzi. Berikut percakapan antara kami.

"Halo Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Mas, kamu dimana? Ini aku Reinal"
"Aku ditengah jembatan Nal, lha kamu dimana?"
"Aku juga ditengah jembatan ini mas." Sambil clingak-clinguk nyari keberadannya.
"Jembatan mana? Jangan-jangan salah jembatan kamu."
"Wah nggak tau juga mas." Bener nih, emang salah jembatan.
"Ya wis, kita ketemu di Shibo aja."
"Iya mas. Tunggu disana."
"Tut. . . Tut. . .tut."

Setelah berterima kasih, aku langsung bergegas menuju ke Shibo. Beberapa menit kemudian aku mulai melihat keberadaan orang yang aku tunggu-tunggu. Mas Fauzi berdiri tepat di depan Shibo, aku menghampirinya dengan perasaan campur aduk. Malu sekaligus merasa bersalah karena tidak bertanya dimana lokasi tepatnya. Dan ternyata, lokasi yang dimaksud adalah jembatan tepat didekat Shibo! "Aaaah, bego bego bego." geramku dalam hati. Aku menunggu 2 jam lebih di tempat yang salah, dan membiarkan mas Fauzi menantikan kehadiranku. Bahkan waktu itu aku nggak tau harus berkata apa lagi.

Dan karena waktu sudah menunjukkan pukul 11:28 waktu setempat, sudah nggak memungkinkan lagi untuk menuju ke B1. Karena jam 12 sudah mulai waktunya untuk istirahat, dan akan kembali dibuka pukul 14:00. Akhirnya kami kembali ke Dorm, untuk beristirahat, sholat, dan sekedar menenangkan pikiran. Hehe.

14:00, aku dan mas Fauzi berangkat menuju ke B1 untuk menuntaskan segala urusan yang belum selesai. Meskipun masih ada beberapa yang belum terpenuhi, setidaknya registrasinya sudah beres terlebih dahulu. Yang lain-lain baru menyusul beberapa hari kemudian, barulah semuanya beres.

Yah, meskipun cukup memalukan, tapi setidaknya pengalaman ini bisa digunakan sebagai pelajaran. Adegan di atas bukan untuk ditiru, tapi untuk diambil hikmahnya. Yang jelas, jangan sok tau, jangan malu bertanya, dan yang paling penting jangan mudah percaya sama orang yang namanya Sandhi. Camkan itu!

See you in my next crazy story. 再见!

Komentar

  1. waahh mesakke om ail..lg tekan diapusi wong papua...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iku asline udu wong papua mbak, iku wong depok rambute kriting. :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kuda Hitam yang Tak Lagi Hitam

Setelah sekian lama vakum blogging, sekarang dimulai lagi perjalanan penulis pemula bernama Reinal Ariyuda. Ya, mungkin rada garing dan membosankan, namanya aja pemula. Hehe.  Langsung aja masuk kedalam cerita.  Waktu itu aku sudah kelas XII di SMA N 1 Rembang, sekitar pertengahan bulan November disaat pulang sekolah pengumuman ini bergema. "Diharap untuk siswa yang saya sebut, setelah pulang sekolah untuk berkumpul di Lab Komputer. Dono XII IPA 7, Joko XII IPA 6, Maho XII IPA 5, Zurich XII IPA 5. Terima kasih" "Namaku nggak disebut" gumamku dalam hati. Sebenarnya sih nggak masalah, cuman, nama-nama yang disebut itu semua adalah orang yang ikut ekstra olimpiade komputer, dan aku ikut! Gimana nggak dongkol coba. Ya udah aku pulang dengan lapang dada (buset dah). Sampe kos-kosan aku langsung ambil air wudlu, trus sholat, tidak lupa berdoa pada Allah SWT untuk diberikan yang terbaik. (Kakakaka) Beberapa saat kemudian setelah sholat, suara yang tak asing b...

Usaha Keras tak Akan Mengkhianati - Jilid 1

Karena kemenanganku di lomba SNITCO yang lalu, aku mendapatkan beasiswa ke SCUT Guangzhou, Tiongkok. Untuk menindaklanjutinya, maka aku harus segera mengurus persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan mulai dari paspor, visa, foto, medical check up, dll. Yang dll itu aku masih nggak tau, nunggu kabar dari Tiongkok dulu. Jujur aku nggak begitu peduli dengan itu semua, toh kalo udah waktunya bakal jadi tuh syarat-syarat. Pikirku dalam hati. Sampai UN selesai akupun belum mengurus apa-apa kecuali paspor. Rabu, 2 Juli 2014 Aku mencoba membuka e-mailku kali aja ada kabar, dan ternyata iya. Di situ tertulis bahwa karena aku dibawah 18 tahun, ada persyaratan tambahan yakni " Authorization to the Guardian Letter "(Namanya kek lontong, panjang amat). Aku nggak tau suratnya kayak gimana, buatnya dimana, pake bahasa apa. Aku tanya ke pihak SCUT bagaimana wujud surat itu, selang beberapa hari aku mendapat balasan beserta attachment contoh suratnya. Aku buka, "Aah simpel tern...