Waktu aku masih kelas 7 SMP, sifatku masih kekanak-kanakan banget. Kayak masih kelas 4 SD (maklumlah, coz aku masih belum banyak belajar). Pada waktu itu adalah jam istirahat. Sebenarnya sih aku mau kekantin, namun karena aku masih merasa kenyang, jadinya aku dikelas aja. Istirahatnya kurang lebih 15 menit, jadi lumayan lama.
3 menit pertama aku masih nyantai-nyantai saja, 3 menit kedua aku mulai merasa bosan, 3 menit ketiga aku memikirkan hal yang ingin aku lakukan agar nggak bosan, akhirnya aku menemukan ide aneh yaitu main pesawat-pesawatan kertas (kayak anak kecil kan?). 3 menit berikutnya aku membuat benda tersebut dan 3 menit terakhir aku gunakan untuk main pesawat karyaku itu.
Saking asyiknya, tanpa aku duga pesawatku nyangkut di kipas angin. Aku masih nyantai saja. Pikirku “wah, nyangkut. Berakhir deh main-mainku.” Cuma itu saja yang aku pikirkan. Nggak mikir dimarahin guru atau dipanggil BP. Jam istirahat berakhir. Dan kebetulan setelah istirahat adalah jamnya bapak Jumbadi, guru yang terbilang disiplin dan galak. Pak Jum memasuki kelasku, seperti biasa beliau memulai dengan salam khasnya. “selamat siang anak-anak” “siang pak” kami menjawab dengan serempak.
Waktu kipas anginnya nyala sih tidak ada masalah, namun tiba-tiba listrik padam sebentar, kemudian hidup lagi. Kipas anginnya pun berbunyi “kretek-kretek-kretek…”. ( kayak kursi reot aja.. ) Bunyi itu disebabkan karena pesawat kertasku yang nyangkut. Aku waktu itu baru nyadar. “Pasti aku dimarahi nih” kataku dalam hati. Mendengar suara tersebut seluruh penghuni kelas tertuju ke sebuah benda yang dapat berputar dan menghasilkan angin yang sangat sejuk ( ah, susah-susah. Bilang aja kipas angin )
“Siapa yang bermain pesawat-pesawatan kertas sampai nyangkut disitu???” kata pak Jum dengan nada geram. Mau nggak mau aku harus jujur. “saya pak.” Jawabku. Aku langsung disuruh maju kedepan kelas dan harus mengambil pesawat tersebut dari kipas angin itu (ngambilnya cukup susah coz kayak ada frame’nya).
Untungnya saja aku disuruh memilih dua partner untuk membantuku mengambil pesawat tersebut. Aku memilih Syifa’ (teman sebangku saya) dan Jamal (siswa yang kecil tapi cooL). Kami mencari ide untuk mengambil benda tersebut. Akhirnya saya menemukan ide untuk merakit suatu alat yang memerlukan bahan-bahan antara lain bambu, tali dan lidi. Kami menemukan bahan-bahan tersebut di gudang. Jamal kemudian merakit bahan-bahan tersebut sehingga jadilah alat yang kami sebut dengan “SJR7X” yang artinya Syifa’, Jamal, Reinal. 7X’nya Cuma buat hiasan saja.
Setelah jadi kami langsung menggunakan SJR7X. Yang bertugas mengambil adalah Syifa’ karena aku sudah menemukan ide, Jamal yang merakit, tinggal Syifa’ yang belum bekerja. Akhirnya misi kami berhasil. Kami pun meletakkan SJR7X kembali kedalam gudang.
Sebelum bebas, kami dinasehati dulu. Untung saja kami tidak dimarahi, karena biasanya para siswa yang berurusan dengan beliau pasti dimarahi. Mungkin karena keberanianku dalam mengakui perbuatan yang telah aku perbuat. Dan alhasil, kami malah mendapat pelajaran berharga dari pak Jum yaitu “Jangan kayak anak kecil ah. Sudah SMP kok masih main pesawat-pesawatan. Buang sifat kekanak-kanakanmu ya??” “Nggih pak” jawab kami serempak. Mulai saat itu, sifat kanak-kanakku mulai berkurang. Bahkan menghilang. Trimakasih ya pak…
Amanat : Kalau sudah SMP, jangan kayak anak kecil ya friend. Dan jangan lupa. Jujur adalah yang utama. :D

hahahahahaha
BalasHapushihihi mso ngono ril??(Mb lia) aku meh comment nggo gmail gak iso je
BalasHapus