Langsung ke konten utama

Tragedi KWH Meter

Saya adalah Reinal ( Mang Po ). Kejadian ini terjadi ketika aku masih kelas 3 SMP. Bel pulang sekolah pun berbunyi. Aku tidak langsung pulang dulu karena masih ada ekstrakurikuler komputer. Seperti biasa, aku dan teman-temanku yaitu Aga ( big boy, coz emg tubuhnya besar ), Hakam ( Nggak punya julukan ) dan Irvan ( alias Mbeos ) mangkal dulu di depan lab komputer. Karena kami shift 2, jadinya kami menunggu sampai giliran shift 2.
Aku dan teman temanku sudah tidak sabar menunggu giliran. Tiba-tiba salah seorang dari kami punya ide untuk mematikan saklar KWh meter. Entah siapa yang mempunyai ide gila itu, aku lupa. Namun ide tersebut disetujui oleh kami semua. Padahal kami termasuk orang yang baik, jujur, tidak sombong dan suka menabung ( apa hubungannya?? ).
Sekarang tinggal nentu’in siapa yang akan melakukan hal tersebut. Salah satu dari kami tidak ada yang mau. Akhirnya salah seorang dari kami yang bijak ( yaitu aku sendiri. Hehehehe ) memutuskan untuk melakukan “Hom-pim-pa”. Tentu saja semuanya setuju. Ternyata Irvan lah yang harus melakukannya. Sebenarnya Irvan tidak mau, tapi karena Hakam bersedia menemani, jadinya ea sedikit berani. Dengan berat hati, mereka berdua menjalankan tugasnya ( emang mau perang apa ).
“Jeglek! !” begitu suara benda tersebut ketika ditarik, dan tentu saja para siswa yang sedang Les kaget dan dikira listrik mati.. Irvan dan Hakam langsung lari mengambil langkah dua ribu ( seribu’an cuy, Irvan 1000, hakam 1000. Xixixixixi ). Aku dan Aga juga ikut lari. Aga paling belakang coz dia yang paling gendut diantara kami. Tapi dia juga berhasil sembunyi.

Namun waktu kami sedang asyik sembunyi, aku berfikir ( maklum lah, coz aku kan emang paling bijak diantara mereka semua. wkwkwkwkwkwk pede’nya) “Kalaupun sekarang kami selamat, pasti besok dicari juga oleh Pak Yadi ( guru yang mengajar les kelas 7 )” pikirku dalam hati. Kemudian aku bilang ke teman-teman agar menyerahkan diri kepada Letjen Yadi ( karena orangnya emang mirip letnan ). Kami berempat ditanya oleh pak Yadi “Siapa tadi yang mematikan saklarnya????” dengan nada tersengal-sengal+takut, irvan pun mengaku “sa… saya.. pak…”
Kami ditanyai macam-macam. Diinterogasi kayak penjahat kelas Paus ( kakap mah kurang besar ). Setelah ditanya, kami langsung disuruh berdiri didepan Lab Komputer KELAS 7 ! ! Betapa malunya kami, dilihat adik-adik kelas yang masih imut-imut kayak semut makan serabut (emang penting ea,.). Setelah lama kami mendapat hukuman, kami pun minta maaf kepada pak Yadi, dan akhirnya beliau memafkan kami dengan syarat tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Dan beliau pun bersedia untuk merahasiakan perbuatan kami kepada guru-guru. Terima kasih ya pak…
Amanat : buanglah jauh-jauh sifat buruk kayak aku dan teman-teman. Tirulah saja kebaikannya. Oce???

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pijakan Pertamaku di Tirai Bambu

Sabtu, 13 September 2014 16:30 waktu setempat. Pesawat Garuda Airlines dengan nomor penerbangan GA898 mendarat dengan selamat di Baiyun International Airport, Guangzhou. Ingin hati ini segera memberi kabar kepada keluarga bahwa aku sudah tiba disini. Di negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi terbesar di Dunia, di negara dengan jumlah penduduk terbesar di Dunia, negara dengan jumlah barang KW terbesar di Dunia. XD Kiri : Keadaan di dalam pesawat Kanan : Keadaan di luar pesawat Cukup dengan opening yang sok puitis ini ye. Otakku nih nggak kompatibel karo harus mikir yang puitis mulu :D. Oke lanjut. Waktu pertama aku turun dari pesawat, sumpah demi Allah aku nggak tau apa yang harus aku lakukan. Prosedur-prosedurnya kaya gimana aku nggak tau. Aku bilang sama orang yang tadinya duduk disebelahku. "Mas, help me ya. Aku nggak tau urut-urutane harus gimana" "Iya, tenang ae. Udah ngikut aku aja" "Oke sip, makasih mas."

Kuda Hitam yang Tak Lagi Hitam

Setelah sekian lama vakum blogging, sekarang dimulai lagi perjalanan penulis pemula bernama Reinal Ariyuda. Ya, mungkin rada garing dan membosankan, namanya aja pemula. Hehe.  Langsung aja masuk kedalam cerita.  Waktu itu aku sudah kelas XII di SMA N 1 Rembang, sekitar pertengahan bulan November disaat pulang sekolah pengumuman ini bergema. "Diharap untuk siswa yang saya sebut, setelah pulang sekolah untuk berkumpul di Lab Komputer. Dono XII IPA 7, Joko XII IPA 6, Maho XII IPA 5, Zurich XII IPA 5. Terima kasih" "Namaku nggak disebut" gumamku dalam hati. Sebenarnya sih nggak masalah, cuman, nama-nama yang disebut itu semua adalah orang yang ikut ekstra olimpiade komputer, dan aku ikut! Gimana nggak dongkol coba. Ya udah aku pulang dengan lapang dada (buset dah). Sampe kos-kosan aku langsung ambil air wudlu, trus sholat, tidak lupa berdoa pada Allah SWT untuk diberikan yang terbaik. (Kakakaka) Beberapa saat kemudian setelah sholat, suara yang tak asing b...

Usaha Keras tak Akan Mengkhianati - Jilid 1

Karena kemenanganku di lomba SNITCO yang lalu, aku mendapatkan beasiswa ke SCUT Guangzhou, Tiongkok. Untuk menindaklanjutinya, maka aku harus segera mengurus persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan mulai dari paspor, visa, foto, medical check up, dll. Yang dll itu aku masih nggak tau, nunggu kabar dari Tiongkok dulu. Jujur aku nggak begitu peduli dengan itu semua, toh kalo udah waktunya bakal jadi tuh syarat-syarat. Pikirku dalam hati. Sampai UN selesai akupun belum mengurus apa-apa kecuali paspor. Rabu, 2 Juli 2014 Aku mencoba membuka e-mailku kali aja ada kabar, dan ternyata iya. Di situ tertulis bahwa karena aku dibawah 18 tahun, ada persyaratan tambahan yakni " Authorization to the Guardian Letter "(Namanya kek lontong, panjang amat). Aku nggak tau suratnya kayak gimana, buatnya dimana, pake bahasa apa. Aku tanya ke pihak SCUT bagaimana wujud surat itu, selang beberapa hari aku mendapat balasan beserta attachment contoh suratnya. Aku buka, "Aah simpel tern...