Lanjutan dari Jilid 1
ini agak panjang. Semoga anda nggak sakit mata. :v
Akhirnya si petugasnya
ngasih jalan keluar agar dikirim lewat e-mail aja. Tapi harus sudah masuk
sebelum jam 12. Aku segera menghubungi Ayahku yang kebetulan ada di Rembang,
untuk segera menemui si Notaris agar segera dikirim tuh spesimen. Jam 10,
spesimen masih nihil, jam 11 belum datang juga. Jam 11:30 akhirnya aku
menghubungi ayahku, katanya lagi ada masalah koneksi. Sabar, aku berusaha
sabar. Hmmmm. At least, tuh spesimen masuk e-mailku jam 11:45. Langsung aku
print, kemudian berlari ke petugas tadi. Masih sempet vroh.
Alhamdulillah.
Asal kalian tau aja ni
ya, sebenernya aku tuh udah telat masuk kuliah. Registrasi terakhir tuh 31
Agustus 2014, tapi si Jimson yang baik hati ngasih kesempatan sampai tanggal 15
September. Dan aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku harus segera
menyelesaikan nih surat sialan.
Kalo normal, Surat itu
baru bisa jadi 9 hari kerja, Kemenkumham 3 hari, Kemenlu 3 hari, Kedutaan China
3 hari. Tapi aku nggak punya waktu sebanyak itu. Waktuku tinggal 6 hari kerja
karena sabtu-minggu kantor libur. Aku harus mencari cara. Alhamdulillahnya,
Adiknya temen ayah saya punya kenalan di Kemenkumham (Selanjutnya disebut
sebagai Mas Ali).
Mas
Ali ini orangnya baiiiiiiiik bangeet. Bantunya nggak setengah-setengah. Beliau
mengerahkan sekuat tenaga untuk membantuku mengurus surat sialan ini. Tapi
sialnya, pejabat yang bertugas untuk menandatangani surat ini lagi liburan
keluar kota, dan baru akan kembali Senin. Dan
Suratnya baru bisa diproses dan baru akan jadi pada hari Rabu. Ya Allah, nih
pejabat liburan diwaktu yang nggak tepat banget seh. Tapi untung ada mas Ali,
jadi saat pejabatnya tiba dikantor langsung diminta untuk tanda tangan surat
sialan itu deh. Makasih buanyak ya mas Ali.
Seninnya, jam 7 aku
dan ibuku bersama mas Anwar dan mas Lazu kembali melesat ke Kemenkumham untuk
mengambil surat itu. Alhamdulillah surat itu sudah bisa diambil. Berikutnya,
kami langsung teleport ke Kemenlu. Aku meminta petugasnya untuk menjadikan
surat itu hari itu juga, tapi dia bilang nggak bisa. "Maaf pak, nggak
bisa, ini pejabatnya lagi rapat, paling cepet ya besok." Aku terus
memaksa, memaksa, dan memaksa. tapi tetep nggak bisa.
Akhirnya aku dan
ibukupun keluar untuk kembali menelepon mas Ali. Selang beberapa saat kemudian
mas Ali datang. Mas Ali yang baik banget itu akhirnya turun tangan untuk
mengatasi masalah ini. Hanya sekali mas Ali meminta, saat itu juga petugasnya
mengiyakan kalo sore ini bisa jadi. "Busyet dah. Sakti amat nih
orang." Pikirku dalam hati dong vroh, masa' iya aku ngomong kenceng-kenceng.
Aku sangat bersyukur karena nih surat sialan bisa cepat selesai. Masih sisa 4
Hari, dan tinggal menuju ke kedutaan Tiongkok, masih cukup juga.
Selasa, 9 Agustus 2014, kami berempat berangkat ke kedutaan. Setibanya disana, ternyata surat
sialan ini masih kurang setempel kesatuan. Ya Allah, kenapa si notaris lupa
ngasih setempel itu sih -______-". Hatiku dongkol lah, dongkol banget. Mas
Ali pun tidak bisa membantu karena ini masalah kekurangan lengkapan dokumen.
Dengan sangat terpaksa, sore itu juga, aku memesan tiket bis dan berangkatlah
aku kembali ke Rembang untuk meminta stempel kesatuan itu.
![]() |
Gedung yang besar ini gedung XL.
Oh yang kaya kelenteng? Itu Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok. Kepo amat lu.
|
Rabu, 10 Agustus 2014, 04:00 WIB. Aku tiba di mantan kos-kosan (bukan kos-kosan mantan. xD) waktu aku SMA, ibu kosnya baik banget loh, setiap kali mampir situ, pasti dikasih makan. Hehe. Sekedar promosi, didekat KSP Loh Jinawe Rembang kan ada Jalan keselatan tuh, masuk aja, rumah pertama dikirimu itulah kos-kosanku. Dijamin betah deh tinggal disana.
Oke, balik ke cerita. Setelah mandi dan sarapan di kos-kosan, jam 8 aku berangkat ke Notaris itu meminta stempel yang kurang, udah langsung balik ke kos-kosan lagi deh. Sepele kan? Iya, Cuma gitu doang dan aku harus bolak-balik Jakarta-Rembang-Jakarta lagi. Huffet. Agar rada bermakna, aku meminta ayahku untuk datang ke Rembang untuk sekedar makan siang atau berbincang karena mungkin aku nggak akan balik Rumah lagi untuk waktu yang lama. Jam 12:00 aku makan siang bersama ayahku di sebuah warteg. Setelah itu ayah mengajakku jalan-jalan sebentar kemudian membeli tiket untuk aku balik ke Jakarta. Setelah itu aku berpamitan, dan ayah langsung pulang ke rumah.
Jam 15.00 aku menuju terminal Rembang untuk kembali ke Jakarta.Ya, kehadiranku di Rembang ini nggak ada sehari. Nggak kebayang deh capeknya kaya' gimana. Tapi perjuanganku belum selesai sampai disini karena masih banyak halangan rintangan membentang. Namun tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran. Haha. Huuuu. (Pernah denger kata-kata itu deh.)
Kamis, 11 September 2014, 05.00 WIB. Aku kembali menapakkan kakiku di Jakarta. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku langkahkan kaki menuju rumah budheku. Tanpa babibu diri ini langsung terlelap di kursi panjang teras rumah budhe. Sekitar jam 8 aku dibangunkan oleh ibuku aku segera mandi dan kami pun kembali berangkat ke kedutaan untuk menyodorkan Surat Sialan yang udah dikasih stempel ini ke petugasnya. Akhirnya si mbak petugas ini mau juga nerima Surat Sialan ini. Dan besok suratnya sudah bisa jadi. Alhamdulillah
Kami berempat pulang dengan lega karena semua urusan telah selesai. Aku pun akhirnya bisa beristirahat dengan tenang sembari menunggu makan siang. Sekitar jam 2 siang, aku bangun kemudian jalan-jalan sebentar di halaman. Beberapa saat kemudian budhe memanggil untuk mengajak makan siang. Aku, budhe, dan ibu makan siang bersama di ruang makan. Jam 14:27 WIB, hapeku berdering, aku lihat ternyata dari Kedutaan Tiongkok. "Waduuh, perasaanku nggak enak nih."
Dengan perasaan nggak karuan aku akhirnya menjawab panggilan itu.
"Halo selamat Siang?" Sapaku
"Halo selamat siang, dengan bapak Reinal?" Kenapa semua pegawai memanggilku bapak ini masih sebuah misteri.
"Iya, ada apa ya mbak?"
"Ini, ada kesalahan dalam penulisan surat dari bapak ini?"
"Kesalahan? Maksutnya?" Mulai dari sini tanganku bergetar. Sumpah demi Allah.
"Iya, jadi surat ini harus dibetulkan, bapak mending kesini sekarang deh."
"I-iiya mbak. Makasih mbak"
Aku meletakkan hapeku di meja sembari menatap mata ibundaku.
"Kembali ke kedutaan lagi buk, ada yang mesti dibenerin"
"Ya buruan, sama mas Anwar sendiri nggak apa-apa to? Biar lebih cepet."
"Nggih buk, berangkat dulu, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Aku dan mas anwar langsung berangkat ke kedutaan. Meskipun jalanan macet, kami dapat melaju dengan kecepatan mendekati kecepatan Equus quagga (cari aja di goo*le). Setengah 4 tibalah kami di kedutaan. Mas anwar nggak ikut masuk karena harus parkir sepeda motor dahulu, soalnya parkirnya agak jauh. Aku pun memasuki ruangan dengan hati berdebar-debar.
Ini bagian yang bagiku cukup menegangkan. Simak baik-baik.
"Gini dek. (Akhirnya dipanggil dek juga ) Ini ada salah penulisan, disini tertera civilization seharusnya citizen." Kata mbaknya dengan nada rendah dan halus.
"Lha trus ini gimana dong mbak? Harus ganti surat baru?" mataku mulai memproduksi air mata dan siap didistribusikan.
"Ya harus buat yang baru dek."
"Ini harus kembali ke Kemenkumham lagi berarti???" produksi air mata berlebih, mulai tumpah tetes demi tetes.
"Bentar ya dek, tak tanyain atasan saya dulu" mbaknya jelas kasihan padaku, kulihat dari raut mukanya raut muka orang bersimpati.
Beberapa menit kemudian. . .
"Ini nggak usah kembali ke kemenkumham, cukup ganti yang halaman depan aja."
"Tapi mbak, kalo harus ganti surat ini waktunya nggak cukup, besok suratnya harus sudah jadi." Kata-kataku sudah mulai terbata-bata. Isak tangis ini tak tertahankan.
"Maaf dek, tapi memang gitu seharusnya."
"Mbak, kalo surat ini nggak bisa jadi besok, aku nggak jadi kuliah."
"Aduh gimana ya dek, coba saya tanyakan atasan saya lagi."
Air mata ini telah mengalir begitu derasnya, petugas lain yang memperhatikanku terlihat begitu iba terhadapku. Tapi dia tak berani berkata apa-apa. Sekarang, yang ada dipikiranku hanyalah kedua orangtuaku, bagaimana reaksi mereka mengetahui ini semua. Beberapa saat kemudian petugasnya kembali.
"Gini dek, atasan saya ngasih solusi, tulisan yang salah cukup diganti oleh notaris yang bertanda tangan dibawah ini, disertai stempel koreksi."
"Tetep aja nggak bisa mbak, notarisnya tuh rumahnya jauh. 2 Hari baru bisa sampai sini lagi dan itu nggak mungkin."
"Maaf dek, itu alternatif terakhir dari kami."
Dengan penuh kekecewaan, aku tinggalkan petugas itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan menoleh kepadanya pun tidak. Masa depanku yang telah aku rencanakan sedemikian rupa telah hancur. Dan aku harus menyusun rencana baru dengan masa depan yang baru. Mungkin ada jalan lain yang lebih baik yang sudah digariskan oleh-Nya.
"Gimana dek?" tanya mas Anwar memastikan.
"Gak bisa mas."
"Lha trus?"
"Pulang aja deh, nggak pa2."
Diperjalanan pulang aku sudah merencanakan untuk menjadi Ustadz, mondok di Pondok Pesantren ternama di Jawa Timur, setelah itu kembali ke Kampung halaman dan mengajarkan ilmu agama ke masyarakat sekitar. Selain jadi ustadz, aku punya pekerjaan sampingan yakni detektif. Angan-anganku telah melayang jauh di atas awan. Jam 15:55 WIB Getar hpku menghentikan lamunanku. Tanpa melihat nomornya ku jawab panggilan itu.
"Halo Assalamualaikum"
"Halo dek Reinal?"
"Oh, iya, gimana mbak?"
"Jadi gini, surat ini bisa dibenahin kalo kedua orangtua adek bisa hadir disini. Mereka sanggup hadir besok?"
"Iya, bisa mbak bisa, tapi besok bisa langsung jadi kan?"
"Bisa dek, tapi jangan bilang siapa-siapa ya."
"Bisa dek, tapi jangan bilang siapa-siapa ya."
"Iya mbak. Siap. Makasih ya mbak."
Ternyata masih ada kesempatanku untuk kuliah di Negeri Tirai Bambu itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi aku langsung menghubungi ibu dan ayahku tentang perihal ini. Saat itu juga ayahku langsung mencari tiket untuk berangkat ke Jakarta. Dengan tanpa membawa apapun, ayah berangkat ke Jakarta meninggalkan adekku sendirian dirumah. Jelas saja adek menangis, karena akupun begitu, tak tega melihat adekku yang masih kelas 3 MTs sendirian di rumah. Tapi mau gimana lagi, dia tetap harus tinggal di rumah. Adekku sayang, maafkan masmu ini ya.
Jum'at, 12 Agustus 2014 09:00 WIB tibalah Ayahku di Jakarta, aku sambut ayahku dengan pelukan hangat, tanda bahwa hatiku butuh sandaran. Ayahku mengatakan sesuatu padaku.
"Nek ancen dalanmu, mesti kecekel. Kalemke ae atimu, nggih?"(Kalo emang jalanmu, pasti dapat. Tenangkan saja hatimu, ya?)
"Nggih yah." Kata-kata yang sungguh amat menyejukkan hati dari seorang Ayah.
"Apapun hasilnya nanti, itulah yang terbaik, karena Allah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita." lanjut ayah.
"Nggih yah. Makasih nggih."
Aku dan kedua orangtuaku langsung menuju ke Kedutaan. Ya, memang ayahku belum sempat istirahat, tapi ini masalah harus segera diselesaikan. Kami, bersama mas Anwar dan mas Lazu ditambah lagi 1 tetangga budhe berangkat naik motor ke kedutaan melewati jalan tikus karena kita memburu waktu.
Dan alhamdulillah, kami masih sempat untuk mengumpulkan surat sialan ini agar segera dilegalisasi, dan sore harinya surat ini bisa diambil. Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT karena masih memberiku kesempatan untuk melanjutkan cita-citaku di negeri orang. Tak henti-hentinya aku bersyukur pada-Nya, karena keesokan harinya, Sabtu, 13 Agustus 2014 08:00 WIB aku dapat merasakan penerbangan pertamaku yakni berangkat ke Guangzhou, Tiongkok dengan nomor penerbangan GA898 seat 33A.
Hal yang paling menyedihkan adalah, hanya adekku yang tidak ikut mengantarkanku ke Bandara, bahkan aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal padanya. Ayah, ibu, Mas Andri, mereka mengantarkanku sampai di bandara. Maafkan masmu ini ya dek. Sebenarnya mas juga pengen adek ikut kesini. Sekali lagi mas minta maaf.
Dengan berat hati aku meninggalkan keluargaku, dan mengucapkan kata perpisahan. Aku mulai berjalan meninggalkan mereka. Melihat mereka sekali lagi, berharap ini bukanlah yang terakhir kali aku melihat keluargaku. Terimakasih, untuk kalian yang telah memberi dukungan penuh terhadapku. Allah pasti akan membalas semua kebaikan kalian.
Ucapan terimakasih kepada:
>> Ayah (Tohir Supardiana) dan Ibu (Herni Setiyaningsih) yang tak henti-henti mendoakanku dan mendukung atas segala apa yang aku inginkan. Kalian tidak pernah mengekangku, aku sungguh bersyukur memiliki orangtua seperti kalian.
>> Andrian Wahyu Jati, kakakku yang turut menghiburku dikalaku sedang dalam masalah, dan slalu membuatku tertawa.
>> Desty Arinda Ghozalina, adekku tersayang yang merelakan kakaknya pergi jauh untuk waktu yang lama, meskipun kita telah melewati banyak masa-masa bahagia bersama.
>> Ustadz Muhammad Nurul Anwar dan Ustadz Lazuardi yang setia menemani kami, mengantar kami, kemanapun kami pergi.
>> Pakdhe dan Budhe yang mengijinkan kami untuk tinggal dan makan di rumah kalian selama 10 hari.
Kebaikan kalian tak kan pernah kulupakan. Terimakasih banyak atas segalanya.

nek wes dadi wong cino jeh mewekan po ra yo???hohohoho
BalasHapusTergantung suasana hati. :D
Hapusgpp ril...mb lia wae yo jeh mewekkan koq huahhhaaahhhahahah
Hapus